KAMPURUI.com, BUTON – Bupati Buton Alvin Akawijaya Putra bersama Kapolres Buton AKBP Ali Rais Ndraha.,SH.,SIK.,M. Mtr melakukan panen jagung bersama dalam rangka mendukung ketahanan pangan. Acara yang bertempat di Desa Siomanuru, Kecamatan Lasalimu Selatan, tak sekadar menjadi kegiatan seremoni ketahanan pangan. Momentum ini mengungkap lebih dari sekadar hasil panen dikarenakan ada semangat baru yang tumbuh dari lahan jagung, terutama khususnya dari para petani muda.

“Jagung di Siomanuru adalah cermin bahwa pertanian kita masih kuat. Kita butuh semangat baru, termasuk dari anak-anak muda, agar pertanian kita bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan permintaan pasar,” ujar Alvin.
Yang menarik, dalam panen kali ini juga hadir sejumlah petani muda dari Desa tetangga yang ikut menyaksikan langsung. Salah satunya, Irsan (24), pemuda asal Desa Waondo Wolio, yang baru setahun terakhir fokus mengelola lahan jagung dan telah memanen hingga 2 ton dalam sekali musim.
“Saya dulu kerja di kota, tapi balik kampung karena lihat peluang jagung. Apalagi sekarang dibantu pupuk, alat tanam, dan pelatihan. Hasilnya nyata,” kata Irsan.
Kapolres Buton, AKBP Ali Rais, dalam kesempatan itu juga menegaskan komitmen TNI-Polri dalam mendukung ketahanan pangan Desa. Salah satunya dengan menjaga keamanan lahan pertanian dan pendampingan melalui Bhabinkamtibmas.
“Pertanian yang kuat, desa aman, masyarakat sejahtera. Ini tugas kita bersama,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Buton Mahmul Djamal menyebut, hasil panen jagung dari Siomanuru kini mulai dilirik pasar Kendari dan Baubau. Bahkan koperasi tani lokal sudah mulai menyiapkan sistem distribusi dan gudang penyimpanan hasil.
Untuk mendukung program ini, Pemerintah Daerah juga menyerahkan bantuan berupa benih unggul, alat tanam, hingga rencana pembangunan jalan tani dan irigasi sederhana di lokasi-lokasi produktif.
Harapan masyarakat juga disampaikan dalam forum dialog terbuka usai panen. Salah satunya dari La Saiman, tokoh tani Desa Siomanuru, yang berharap agar perhatian pemerintah terhadap infrastruktur pertanian bisa terus ditingkatkan.
“Kami butuh jalan tani yang layak dan saluran irigasi sederhana. Kalau distribusi lancar, harga di pasar juga bisa bagus,” ujarnya.
Sementara itu, ibu-ibu petani berharap adanya pelatihan pengolahan jagung pasca-panen agar nilai jual meningkat.
“Kalau bisa, kami juga diajari bikin olahan jagung seperti tepung atau camilan. Jadi bukan cuma dijual mentah, tapi bisa menambah penghasilan,” ungkap Yanti, salah satu anggota kelompok tani wanita (KWT).
Acara panen ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan simbolis bantuan pertanian. Pemerintah daerah menegaskan akan menjadikan masukan masyarakat sebagai prioritas dalam perencanaan program lanjutan













